Langsung ke konten utama

Anak Pertama Kebanyakan Lebih Cerdas dari Saudara yang Lain

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
Ilustrasi (kids-smart.com)
Jakarta, Anak yang lahir pertama akan cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibanding saudara lainnya dan lebih perfeksionis. Sedangkan anak kedua dan berikutnya lebih terbuka dan mudah bergaul serta suka pengalaman baru.

Penelitian terbaru menemukan anak yang lahir pertama akan cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.

Dalam studi tersebut, seperti dilansir dari Topnews, Jumat (3/9/2010), penulis utama Tiffany L. Frank, seorang doktor di Adelphi University, Long Island, New York, dan rekan-rekannya menyurvei 90 pasang saudara kandung di tingkat sekolah menengah atas (SMA).

Partisipan diminta untuk melaporkan nilai dan rankingnya sendiri yang kemudian akan dibandingkan dengan kecerdasan, prestasi etik dan nilai akademis dari saudara kandungnya.

Peneliti juga melakukan tes IQ untuk memastikan tingkat kecerdasan masing-masing partisipan.

Hasilnya, anak yang lahir pertama ternyata memiliki nilai tes yang lebih tinggi dalam matematika dan kemampuan verbal dibandingkan dengan saudara yang lain.

Pada penelitian kedua, peneliti ingin melihat perbedaan kepribadian pada 76 pasangan saudara kandung. Dalam studi ini, partisipan diminta mengisi laporan yang dirancang khusus untuk menilai kepribadian.

Hasilnya, anak yang lahir kedua atau berikutnya ternyata memiliki sifat yang lebih ekstrover (terbuka dan mudah bergaul), sentimental, pemaaf dan terbuka untuk pengalaman baru ketimbang anak yang lebih tua atau anak pertama. Sedangkan anak pertama ditemukan lebih perfeksionis daripada saudara lainnya.

Menurut peneliti, anak pertama cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi karena di beberapa titik dalam kehidupannya, ia merasakan kasih sayang dan perhatian yang penuh dari kedua orangtua.

Sedangkan yang lahir kedua atau berikutnya, anak-anak mungkin merasa lebih mengalami tekanan dan kompetitif, juga selalu berusaha mencoba mendapatkan perhatian yang lebih besar dari kedua orangtuanya.

"Anak yang lebih muda juga cenderung lebih terbuka dengan pengalaman baru karena ia melihat bahwa kendala yang ada sudah dihadapi oleh kakak-kakaknya yang lebih tua, sehingga ia ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang untuk dirinya sendiri," jelas Frank.

Temuan ini telah dipublikasikan dalam Annual Convention of the American Psychological Association ke-118.

Antibiotik Tetrasiklin Ternyata Bukan Obat Moderen

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Foto: thinkstock
Atlanta, Antibiotik tetrasikilin yang banyak digunakan untuk penyembuhan penyakit sifilis atau kandung kemih ternyata bukanlah obat moderen. Jauh sebelum obat itu resmi diproduksi tahun 1948, bangsa Mesir Kuno telah menggunakannya pada 2000 tahun lalu.

Secara resmi, antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama baru dibuat oleh Benjamin Duggar pada tahun 1948 dengan auereomycin. Sedangkan antibiotik yang pertama kali ditemukan dalam pengobatan dunia moderen adalah penicillin yang ditemukan Alexander Fleming pada tahun 1928.

Penemuan ini mencuat ketika para ahli dari Mark Nelson of Paratek Pharmaceuticals, Inc meneliti kerangka 2 mumi balita dari peradaban tersebut. Di dalam tulang mumi yang berasal dari tahun 350 dan 550 SM itu, peneliti menemukan jejak senyawa tetrasiklin.

Saat ditelusuri, jejak senyawa itu berasal dari ramuan bir kuno buatan bangsa Nubia yang tinggal di wilayah timur laut benua Afrika. Para ahli bioarkeolog menyebutkan, ramuan bir tersebut menggunakan bakteri streptomyces yang juga dipakai dalam pembuatan tetrasiklin modern.

Awalnya para ahli menduga bahwa keberadaan streptomyces dalam bir hanya merupakan kontaminasi atau pencemaran yang tidak disengaja. Namun dugaan ini dipatahkan oleh penelitian bioarkeolog asal Atlanta, George Armelagis yang
dipublikasikan dalam American Journal of Physical Anthropology.

Dikutip dari Sciencedaily, Jumat (3/9/2010), Armelagos menggunakan teknologi tinggi untuk mengekstraksi atau memisahkan senyawa tetrasiklin dari tulang mumi. Tulang itu dilarutkan dalam hidrogen sulfida, senyawa asam yang konon paling berbahaya di planet ini, agar diperoleh gambaran kadar tetrasiklin yang lebih akurat.

Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa kandungan tetrasiklin dalam tulang tersebut sangat banyak dan mengindikasikan penggunaan secara rutin dalam jangka panjang. Para ahli meyakini fermentasi yang melibatkan streptomyces itu berjalan di bawah kontrol dan sengaja dilakukan untuk menghasilkan bir berkhasiat obat.

Terlebih sejumlah literatur kuno menyebutkan, bangsa Mesir dan Yordania memang menggunakan bir untuk mengatasi masalah gusi dan infeksi lainnya. Hal ini menguatkan dugaan bahwa fermentasi antibiotik sebenarnya sudah dikenal sejak masa tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...