Langsung ke konten utama

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan.

Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight.

"Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston.

Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi.

Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan adalah 70 persen diet dan 30 persen olahraga. Olahraga yang dilakukan tanpa pengaturan pola makan tidak akan efektif, bahkan dapat memperparah kerusakan sendi jika berlebihan.

Dalam hal ini, Dr William lebih menyarankan olahraga yang tidak terlalu membebani persendian terutama lutut. Jenis olahraga ringan seperti berenang dan bersepeda lebih dianjurkan daripada lari, jika tujuannya adalah untuk memelihara kesehatan persendian.

Tak kalah pentingnya, pemilihan alas kaki yang nyaman dan sesuai juga mempengaruhi tekanan yang dialami persendian. Sepatu dengan bantalan yang terlalu datar di bagian telapak membuat langkah menjadi tidak stabil dan memberikan tekanan yang tidak normal pada lutut.

"Apabila mengalami nyeri pada lutut yang tidak hilang hingga 2 pekan, segera kunjungi dokter. Kemungkinan ada kesalahan mekanis di bagian tersebut," kata Dr William seperti dikutip dari Healthday, Minggu (8/8/2010).
(up/ir

Tips Agar Tas Punggung Tidak Menyiksa Anak Sekolah

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Ilustrasi (dok: thinkstock)
Jakarta, Dibanding jenis tas yang lain, ransel paling banyak digunakan untuk sekolah. Meski praktis, sebaiknya orang tua memperhatikan beberapa hal agar penggunaan tas ini tidak menyebabkan masalah bagi punggung si anak.

Kelebihan ransel dibandingkan model tas yang lain terletak pada 2 tali yang didesain untuk mendistribusikan beban di pundak dengan lebih merata. Karena ditopang juga oleh punggung dan otot-otot di sekitarnya, tas ini dapat membuat pemakainya tidak cepat merasa lelah.

Namun jika tidak digunakan dengan cara yang benar, tas ini juga bisa menyebabkan cedera otot, tulang punggung maupun persendian. Dalam jangka panjang, pertumbuhan anak bisa mengalami gangguan yang berdampak pada perubahan postur tubuh.

Untuk mencegah munculnya berbagai masalah tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan tas ransel, dikutip dari Healthday, Minggu (9/8/2010).

Pilih yang bertali lebar dan empuk
Dengan beban yang sama, tali yang lebih lebar akan memberikan tekanan yang lebih kecil pada bahu sehingga lebih nyaman. Hindari tali yang terlalu kecil jika ransel hendak diisi buku dalam jumlah banyak karena akan menyebabkan nyeri di pundak.

Bantalan empuk juga bisa meningkatkan kenyamanan di bagian pundak. Sementara di punggung, fungsi bantalan bukan hanya untuk meningkatkan kenyamanan tetapi juga melindungi anak dari kemungkinan tertusuk ujung pensil atau penggaris yang ada di dalam ransel.

Pilih ukuran yang sesuai
Selain tidak enak dilihat, ukuran ransel yang terlalu besar bisa membuat anak tidak leluasa bergerak. Apabila hanya digunakan untuk membawa perlengkapan sekolah dan bukan perlengkapan berkemah, ukuran ransel sebaiknya tidak lebih dari 3/4 tinggi badan si anak.

Susun isi ransel berdasarkan beratnya
Agar tidak menyebabkan punggung cepat lelah, isi ransel harus disusun dengan benar. Buku atau barang bawaan yang bobotnya paling berat sebaiknya diletakkan paling mendekati punggung agar mendapat tumpuan paling kuat.

Secara keseluruhan, berat ransel dan isinya tidak boleh melebihi 15 persen dari berat badan si anak yang akan membawanya. Jika anak sampai harus membungkuk, itu menandakan bahwa isi ransel terlalu berat.

Sesuaikan kekencangan tali
Tidak ada ketentuan seberapa kuat tali ransel harus dikencangkan, yang penting sesuaikan hingga dirasakan paling nyaman. Terlalu longgar maupun terlalu kencang akan terasa tidak nyaman dan berdampak pada distribusi beban yang tidak merata pada otot-otot yang menyokongnya.

Jika dilengkapi dengan tali pinggang, kencangkan secukupnya hingga terasa nyaman agar posisi ransel di punggung menjadi lebih stabil. Beban di punggung akan disokong dengan lebih sempurna oleh tubuh ketika tali tersebut dikenakan.(up/ir)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...