Langsung ke konten utama

Pria Punya Faktor Pelindung dari Kegemukan

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Hanya ditemukan sedikit laki-laki yang melakukan program diet untuk mengurangi berat badannnya ketimbang perempuan. Diduga pria punya faktor pelindung yang bisa membuatnya terhindar kegemukan.

Laki-laki biasanya baru punya kecenderungan mengalami peningkatan berat badan setelah menikah. Dikutip dari Health24, Senin (23/8/2010) sebagian besar laki-laki memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan perempuan dalam hal fisiologis dasar dan berat badan.

Faktor yang menjadi pelindung kaum laki-laki dari kegemukan dan penambahan berat badan berlebih, yaitu:
1. Memiliki tingkat metabolisme dasar yang lebih tinggi dibanding perempuan.
Metabolisme dasar disini termasuk jumlah energi yang dibutuhkan untuk menjaga fungsi tubuh saat istirahat, energi untuk proses fisiologis seperti bernapas dan juga pencernaan.

Tingkat metabolisme dasar laki-laki lebih tinggi 5-10 persen dari perempuan yang memiliki berat dan tinggi badan yang sama. Hal ini juga yang menyebabkan perbedaan ukuran tubuh dan komposisi tubuh antara laki-laki dan perempuan.

2. Memiliki persentase lemak tubuh yang lebih rendah dibanding perempuan.

Rata-rata kaum laki-laki memiliki jaringan otot yang lebih besar dan lemak tubuh yang 50 persen lebih sedikit dibanding perempuan. Diperkirakan laki-laki memiliki lemak tubuh sebesar 14 persen, sedangkan kaum perempuan sebesar 24 persen.

3. Konsumsi oksigen maksimum (VO2) yang lebih tinggi dibanding perempuan.

Hal ini disebabkan laki-laki memiliki massa otot yang lebih tinggi dan persentase lemak tubuh yang lebih rendah. Adanya hormon laki-laki testosteron. Hormon ini bisa bertindak sebagai agen anabolik yang bisa membantu meningkatkan massa otot.

Faktor-faktor inilah yang membuat laki-laki 'terlindungi' dari berat badan berlebih atau kegemukan. Tapi pada beberapa laki-laki kerap ditemukan memiliki badan gemuk.

Ada tiga faktor yang bisa membuat laki-laki gemuk yaitu asupan kalori berlebih, kurangnya energi yang terbuang dan mengonsumsi alkohol berlebih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...