Langsung ke konten utama

KESEHATAN

Tanda-tanda Anak Terlambat Bicara

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Sekitar 1 dari 4 anak mengalami keterlambatan berbicara dan membutuhkan bantuan terapi agar bisa membantunya berbicara. Apa saja tanda-tanda anak yang terlambat bicara?

Dr Aditya Suryansyah SpA dalam konsultasi kesehatan detikHealth mengatakan, pada usia 2 tahun sebagian anak sudah dapat bicara dengan kalimat sederhana, sebagian lagi baru dapat merangkai kata yang sederhana namun sudah mengerti berkomunikasi.

Ada beberapa tahapan yang bisa dijadikan petunjuk dalam mengetahui kemampuan berbicara bayi.

1. Bayi usia 3 bulan
Saat usia ini bayi mendengarkan kata-kata yang ucapkan orang lain dan memperhatikan mimik wajahnya. Terkadang bayi lebih banyak menyukai suara perempuan dibandingkan laki-laki. Tidak ada salahnya untuk merangsang vokalisasi bayi dengan lebih sering mendengarkan suara musik.

2. Bayi usia 6 bulan
Pada usia ini bayi mulai mengoceh dengan suara yang berbeda, seperti berkata 'ba-ba' atau 'da-da'. Saat usia 6 bulan akhir, bayi bisa menanggapi namanya sendiri, mengenali bahasa ibunya dan menggunakan nada suara untuk memberitahu jika bayi sedang bahagia atau sedih. Ocehan yang terjadi saat usia ini masih terdiri dari suku kata yang acak tanpa ada makna.

3. Bayi usia 9 bulan
Setelah berusia 9 bulan, bayi mulai dapat memahami beberapa kata dasar seperti 'tidak', 'iya' atau 'bye-bye'. Selain itu, bayi juga mulai menggunakan huruf konsonan lebih banyak.

4. Bayi usia 12 bulan
Rata-rata bayi bisa mengucapkan beberapa kata sederhana seperti 'mama' atau 'dada' pada akhir usia 12 bulan serta mengerti apa yang dikatakannya. Pada usia ini bayi mulai bisa menanggapi atau paling tidak mengerti apa yang dibicarakan orang lain.

5. Bayi usia 18 bulan
Bayi pada usia ini mulai bisa mengatakan minimal 10 kata-kata sederhana, menunjuk ke orang atau benda serta mulai mengenali nama dari bagian tubuhnya. Saat usia ini bayi sering mengulangi kata dengan hanya mengucapkan suku kata terakhir.

6. Bayi usia 2 tahun
Pada usia ini bayi mulai bisa mengucapkan dua sampai empat kata dalam pengucapannya serta sudah lebih jelas maksud dari ucapannya.

7. Bayi usia 3 tahun. Bayi yang berusia 3 tahun kosa katanya semakin berkembang dengan cepat dan bisa mengucapkan beberapa kata, meskipun struktur kalimatnya belum terlalu benar.

Menurut dr Aditya bila anak belum dapat bicara bisa bermacam-macam penyebabnya:
Pertama, dan yang tersering adalah kurangnya komunikasi kepada anak. Anak jarang diajak bicara atau mengajarkan lebih dari satu bahasa sehari-hari yang membuat anak menjadi bingung.

Kedua, adalah keterlambatan bicara karena kelemahan saraf motorik bicara. Biasanya hal ini perlu pelatihan khusus dan diharapkan anak akan dapat bicara setelah dilakukan pelatihan khusus.

Ketiga, adalah anak terlambat bicara karena terdapat penyakit yang lain seperti retardasi mental atau autisme, pada kasus ini anak tidak hanya keterlambatan berbicara, tetapi juga terlambat dalam personal sosialnya dan anak tidak dapat berkomunikasi dengan lingkungannya.

Leslie Rescorla, PhD direktur dari Child Study Institute di Bryn Mawr College dilansir dari Parenting, Sabtu (7/8/2010), waktu yang tepat bagi anak untuk mendapatkan pertolongan profesional adalah saat usianya 2,5 tahun. Karena jika di usia tersebut anak sudah mendapatkan bantuan, maka anak masih bisa mengejar ketinggalan.

Tanda-tanda anak mengalami keterlambatan berbicara adalah:
  1. Anak masih berbicara dalam satu suku kata atau konsonan akhirnya saja.
  2. Anak tidak menggunakan dua kata dalam satu kalimat yang diucapkannya.
  3. Anak jarang mengucapkan kata atau frekuensi berbicaranya sedikit.

Selulit Bisa Diprediksi

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Guratan-guratan kulit bergelombang seperti kulit jeruk adalah ciri dari selulit. Kulit menjadi tidak indah dan sulit sekali dihilangkan. Kini ilmuwan sudah bisa memprediksi apakah seseorang punya bakat selulit atau tidak.

Garis-garis selulit memang mengganggu penampilan sehingga banyak orang terutama wanita pasca melahirkan berjuang mati-matian menghilangkannya.

Selulit disebabkan oleh timbunan lemak di bawah kulit yang membuat permukaan kulit menjadi bergelombang. Pada wanita hamil selulit terjadi karena kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat drastis hingga tubuh akhirnya menghasilkan lebih banyak lemak untuk melindungi janin. Tapi ketika sudah melahirkan guratan-guratan lemak itu biasanya tidak mudah hilang.

Selulit ini biasanya paling banyak terdapat di lengan, bokong, paha, pinggang dan payudara. Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menunda datangnya selulit.

Tapi kini, ilmuwan menemukan bahwa datangnya selulit dapat diprediksi melalui pengujian dan tes gen. Dengan tes gen ini, orang yang berisiko tinggi mengembangkan selulit dapat diketahui.

Dilansir dari HealthMad, Sabtu (7/8/2010), Cellulite DX Genetic Test dapat mengidentifikasi apakah seseorang berisiko tinggi terkena selulit. Orang yang telah mengetahui dirinya berisiko tinggi, dapat mengambil beberapa tindakan pencegahan dengan pola hidup yang lebih sehat.

Alat tes gen ini bekerja untuk mendeteksi adanya varian khusus dari enzim yang disebut angiotensin-1 converting enzyme atau ACE. Enzim ini sangat erat terlibat dalam mengontrol tekanan darah, sehingga banyak obat tekanan darah yang disebut ACE inhibitor, menghentikan enzim ini untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Sampel untuk pengujian varian ACE diperoleh dengan mengambil sampel dari pipi pasien. Sampel lalu dapat dikirim ke laboratorium untuk pengujian genetik.

Jika hasil tes menunjukkan bahwa seseorang memiliki bentuk varian dari ACE, maka ia 70 persen memiliki kemungkinan untuk mengembangkan selulit yang cukup parah.

Bila seseorang memiliki risiko tinggi, maka segeralah melakukan tindakan pencegahan, seperti sebagai berikut:
  1. Makan makanan yang sehat,
  2. Mencegah penambahan berat badan
  3. Perbanyak olahraga.
  4. Menghindari kelebihan estrogen dari sumber-sumber seperti pil KB
  5. Berhenti merokok, karena merokok dapat menyebabkan melemahnya struktur pendukung kolagen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...