Langsung ke konten utama

KESEHATAN

Kedelai Bikin Pria Jadi Feminin

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, "Saya sudah kehilangan hasrat seksual. Penis saya tidak pernah bangun di pagi hari, menyusut dan tampak begitu kecil dibanding dulu. Bahkan saya mengalami perubahan emosi", begitulah pengakuan seorang pria yang sering mengonsumsi susu kedelai.

James Price, seorang pensiunan perwira intelijen Angkatan Darat AS mulanya bingung dengan perubahan yang terjadi padanya padahal dia selalu menjalankan pola hidup sehat.

Price sangat senang mengonsumsi susu kedeal sampai 2,8 liter dalam sehari karena percaya akan khasiatnya. Tak dinyana, seperti dilansir dari MensHealth, Jumat (6/8/2010) susu kedelai nilah yang memicu meningkatnya hormon estrogen dan adanya perubahan dalam tubuhnya.

Kedelai telah dikenal sebagai makanan sehat yang kaya protein, serat dan bebas lemak. Tapi kedelai yang mengandung isoflavon justru tak baik untuk pria karena memicu feminisme.

Manfaat terbesar dari susu kedelai adalah isoflavon. Ini adalah bahan kimia yang mirip dengan hormon estrogen. Isoflavon terhubung ke masalah kesehatan dan bertanggung jawab untuk mencegah banyak kanker, penyakit jantung, osteoporosis dan banyak penyakit lainnya.

Tapi bagi pria, banyak mengonsumsi produk kedelai dapat meningkatkan hormon estrogen atau dikenal dengan hormon seks wanita.

Kelebihan hormon estrogen pada pria secara nyata dapat menyebabkan pembesaran payudara (ginekomastia), melambat pertumbuhan rambut jenggot dan menghilangnya rambut di tangan dan kaki. Yang paling buruk, kelebihan estrogen dapat menyebakan gangguan ereksi.

Selain isoflavon, kedelai juga mengandung genistein dan daidzein, yang keduanya juga bertindak mirip estrogen dan dikenal sebagai fitoestrogen (estrogen yang diproduksi tanaman).

Kedelai tidak peduli dengan karakteristik seks manusia. Dan menurut hasil penelitian yang telah dipublikasi pada beberapa jurnal kesehatan, fitoestrogen memiliki potensi untuk menimbulkan kekacauan hormon dalam tubuh manusia.

Dengan kandungan fitoestrogen, kedelai dapat menurunkan produksi testosteron pada pria dan meningkatkan produksi estradiol, yang cenderung berasosiasi dengan produksi hormon wanita.

Hasil penelitian juga menemukan bahwa pemberian susu kedelai pada bayi dapat menyebabkan penyusutan dari kelenjar timus yang signifikan. Kelenjar ini merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh.

Jamu Lebih Populer Ketimbang Obat-obatan

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(dok: detikhealth)
Jakarta, Dibanding obat-obatan kimia, masyarakat ternyata lebih percaya pada jamu untuk menjaga kesehatan dan mengobati sakit, meski jamu tersebut belum terbukti secara klinis. Kenapa jamu lebih punya pamor dibanding obat-obatan?

"Minum jamu bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Indonesia terutama di daerah Jawa dan Madura, karena termasuk obat tradisional yang alami," ujar Sekjen Kemenkes dr. Ratna Rosita, MPH dalam acara Peresmian Program Magister Herbal dan Green Garden Science di Balai sidang UI, Jumat (6/8/2010).

dr Rosita menuturkan alasan umum orang mengonsumsi obat tradisional adalah untuk mencegah penyakit, mengobati penyakit dan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Namun ada beberapa alasan yang mendasari seseorang lebih memilih obat tradisional ketimbang obat-obatan yaitu:
  1. Harga relatif lebih murah dibandingkan dengan obat-obatan sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat luas.
  2. Bahan-bahan yang digunakan mudah diperoleh di lingkungan sekitarnya.
  3. Proses pembuatan dan alat yang digunakan relatif sederhana.
  4. Efek samping negatif yang mungkin ditimbulkan lebih kecil karena menggunakan bahan alami dan tanpa penambahan bahan kimia.
Tren pola hidup yang kembali ke alam atau back to nature juga makin membuat pemakaian obat tradisional atau jamu semakin berkembang.

Namun sayangnya lanjut dr Rosita, klaim jamu berkhasiat masih sebatas informasi tradisional dan coba-coba karena belum pernah ada bukti yang menguatkannya. Hal ini juga yang membuat keamanan obat tradisional kadang masih diragukan.

"Dalam saintifikasi jamu ini dibutuhkan penelitian yang berbasis pelayanan kesehatan sehingga nantinya dapat diketahui bukti-bukti ilmiah dari obat tradisional ini," ungkapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...