Langsung ke konten utama

KESEHATAN

Gula Bisa Jadi Obat

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Ilustrasi (dok: thinkstock)
Jakarta, Pengurangan konsumsi gula makin gencar dikampanyekan belakangan ini terkait risiko kegemukan dan diabetes yang ditimbulkannya. Tapi gula tidak selalu berbahaya karena gula juga bisa menjadi obat.

Dikutip dari Health, Kamis (5/8/2010), berikut adalah beberapa manfaat gula yang bisa jadi obat:

1. Menyembuhkan luka
Tradisi masyarakat Zimbabwe mengajarkan bahwa gula merupakan pembasmi kuman yang sangat efektif. Masyarakat setempat menaburi luka terbuka dengan gula pasir, dengan tujuan agar proses penyembuhannya lebih cepat.

Penelitian di Inggris telah membuktikan gula mampu menarik cairan di sekitar luka sehingga tidak ditumbuhi bakteri. Efeknya sama seperti garam, tetapi tidak menyebabkan rasa perih saat ditaburkan.

2. Pereda nyeri Sebuah penelitan yang dimuat dalam jurnal Pediatrics mengungkap khasiat larutan gula dalam meredakan nyeri pada bayi saat mendapat suntikan imunisasi. Sebagian besar bayi yang diberi minum 1/4 gelas larutan tersebut tidak menangis saat disuntik, karena lebih sedikit merasakan nyeri.

3. Melembutkan kulit kasar Gula merupakan pelembut (exfoliant) alami bagi kulit. Untuk melembutkan kulit yang rusak, gunakan resep dari The Groove Park Inn Resort and Spa di North Carolina berikut ini.

Campurkan 1/2 cangkir gula pasir dengan 1/4 cangkir minyak kanola, tambahkan dengan 3 tetes minyak lavender esensial. Gunakan sebagai scrub, usapkan dengan gerakan melingkar.

4. Menjaga bunga mekar lebih lama
Sedikit tambahan gula pada air di dalam vas dapat meningkatkan daya tahan rangkaian bunga potong. Menurut Rita Azar, seorang pemilik toko bunga di Los Angeles, 1 sendok teh gula pasir cukup untuk membuat bunga segar mekar lebih lama.

Ini yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Hamil Stres

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta, Ibu hamil jangan stres, mungkin ini dinilai sebagai omongan yang klise. Tapi jangan anggap klise efek ibu hamil yang stres terhadap bayinya. karena stres yang dialami ibu hamil bisa berdampak pada bayi yang dikandungnya.

Stres yang muncul saat hamil bisa dipicu oleh banyak hal, seperti perubahan hormon, kehidupan kerja yang tidak kondusif, masalah keuangan, hubungan keluarga yang tidak harmonis atau kecemasan dan ketakutan memikirkan proses melahirkan.

Jika stres yang dialami tidak terlalu parah biasanya akan ditunjukkan dengan sering menggigit-gigit kuku atau penampilan yang berantakan.

Tapi jika stres yang dialami cukup parah ada kemungkinan timbul beberapa gejala, yaitu:

1. Tidak bisa tidur.
Keluhan yang paling umum dialami oleh ibu hamil adalah kekurangan waktu tidur karena banyaknya pikiran yang mengganggu sehingga ibu hamil sulit tertidur.

2. Sakit kepala.
Sakit kepala yang disebabkan oleh stres biasanya akibat otot di leher dan bahu yang kaku sehingga menyebabkan ketegangan di kulit kepala. Kondisi ini memicu terjadinya sakit kepala.

3. Perubahan nafsu makan.
Stres yang dialami saat sedang hamil bisa membuat seseorang tidak nafsu makan atau justru memiliki nafsu makan yang berlebihan, dan hal ini berbeda dengan ngidam.

4. Gangguan pencernaan.
Meskipun saat hamil ada kemungkinan mengalami mual dan muntah akibat morning sickness, tapi stres yang ada juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah atau diare.

Saat seseorang merasa stres, maka tubuh akan memberikan respons siaga untuk melindungi diri dari ancaman yang ada. Hal ini akan membuat organ-organ tubuh meningkatkan aktivitasnya sehingga hormon kortisol yang dihasilkan lebih besar. Hormon kortisol yang tinggi bisa menembus plasenta dan mempengaruhi pertumbuhan otak bayi, terutama daerah yang berfungsi mengendalikan stres.

"Kecemasan akibat tingkat kortisol yang tinggi pada akhir kehamilan bisa berpengaruh terhadap kehidupan anak-anak nantinya, terutama resiko atau gangguan psikologis," ujar psikolog Dr Thomas O'Connor, seperti dikutip dari Babyworld.co.uk, Kamis (5/8/2010).

Nah ini efeknya pada bayi jika ibu hamil mengalami stres yang cukup parah selama berminggu-minggu:
  1. Berisiko melahirkan bayi prematur.
  2. Bayi lahir dengan berat badan yang rendah.
  3. Anak yang dilahirkan berisiko mengalami hiperaktif atau ADHD.
  4. Gangguan dalam hal perkembangan dan pertumbuhan otak bayi.
  5. Bisa berisiko keguguran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...