Langsung ke konten utama

KESEHATAN

Guru Harus Bisa Mengenali Anak Autis di Sekolah

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
Ilustrasi (Foto: bbc)
Jakarta, Tak sedikit anak autis yang baru terdeteksi harus membutuhkan 'perhatian' khusus setelah memasuki usia sekolah. Ini juga menjadi tanggungjawab guru agar bisa mengenali dan membantu anak autis di sekolah.

Autisme biasanya terdeteksi sebelum usia 3 tahun. Namun, ada juga gejala sejak usia bayi dengan keterlambatan interaksi sosial dan bahasa (progresi) atau pernah mencapai normal tapi sebelum usia 3 tahun perkembangannya berhenti dan mundur, serta muncul ciri-ciri autisma.

Tak hanya orangtua, guru di sekolah mulai dari kelompok bermain (playgroup), Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar juga harus mengenali secara dini bila ada anak didiknya yang menunjukkan gejala-gejala autisma.

"Sayangnya, masih banyak guru yang belum mengenali gejala autis pada anak di sekolah," tutur Tri Gunadi, OT, S.Psi, S.Ked dari Yayasan Medical Exercise Therapy dalam acara Autism & Friends: Talent & Artwork Showcase di Senayan City, Jakarta, Jumat (30/7/2010).

Dalam acara peduli autis yang diadakan oleh London School of Public Relation ini, Gunadi menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang bisa dijadikan petunjuk untuk mengenali gejala autis oleh orangtua dan guru, yaitu:

1. Gangguan kualitatif interaksi sosial
Gangguan ini berupa gangguan atau kesulitan berinteraksi dengan orang-orang sekitar, baik orangtua, guru maupun teman.

2. Gangguan kualitatif komunikasi dan bahasa
Anak autis akan mengalami kesulitan menangkap kata, non verbal, serta jika verbal mengalami echolalia (hanya meniru berulang-ulang), isi pembicaraan aneh, tidak berkomunikasi dua arah, isi tidak relevan, tidak mengerti kata ganti orang, dll.

3. Terjadi gangguan mindblidness
Yaitu tidak mampu mengenali status mental diri dan orang lain dan kurang bisa membaca pikiran orang lain.

4. Pola perilaku dan minat yang terbatas itu itu saja
Anak autis biasanya mengalami gangguan perilaku deficit (suka menyendiri, kurang motivasi, pasif dan lainnya) atau gangguan perilaku berlebihan (tantrum atau suka mengamuk, agresif, berlari-larian, dll).

5. Gangguan emosi
Anak autis kesulitan dalam mengidentifikasi emosi, kuantifikasi emosi, mengekspresikan emosi (datar, temper tantrum, gembira, frustasi, cemas, panik, dll), cenderung lebih banyak menunjukkan emosi negatif dan campuran bentuk emosi yang aneh.

Selain itu, anak autis juga sering tidak membagi emosi dengan orang lain, kurang tertarik dengan ekspresi wajah orang lain dan akhirnya tidak mau menatap mata orang lain.

6. Gangguan perkembangan kognitif
Walaupun rata-rata anak autis mempunyai memori yang luar biasa, tapi cenderung tidak fungsional, problem solving (penyelesaian masalah) yang buruk terutama tidak mampu membaca informasi kontekstual, serta fungsi eksekutif yang rendah (perencanaan, pengaturan, kontrol diri dan fleksibilitas kognitif).

Selain mengalami gangguan-gangguan di atas, anak autis juga memiliki respons sensorik yang tidak terintegrasi.

Ada enam kondisi sensori, yaitu keseimbangan, raba, rasa sendi, penglihatan, pendengaran, pengecapan dan penciuman.

Nah, anak autis biasanya akan mengalami kondisi sensori yang kurang dan cenderung seeker (mencari stimulus sensori) ataukondisi sensori yang berlebih dan cenderung avoider (menghindar terhadap stimulus sensori).

Anak dengan kondisi seeker akan selalu mencari rangsangan secara berlebihan, misalnya sangat suka permainan keseimbangan, suka disentuh dan menyentuh, suka menghentak-hentakkan kaki, berlari-larian, suka melihat benda-benda berputar, mendengar suara-suara tertentu, dan lainnya.

Tapi anak yang cenderung avoider akan berkebalikan dengan kondisi seeker. Anak-anak tersebut akan sangat takut dengan segala hal yang memerlukan keseimbangan, tak suka disentuh dan menyentuh (bahkan tidak mau berpakaian), sangat pendiem, akan berteriak bila mendengar suara-suara tertentu, dan sebagainya.

Gejala-gejala autisme pada anak tersebut sebaiknya dapat diketahui sejak dini, baik oleh orangtua maupun guru di sekolah. Karena semakin cepat terdeteksi, maka akan semakin cepat dilakukan intervensi atau tindakan yang dapat mengurangi gejala autisme.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...