Langsung ke konten utama

Mau Otak Encer? Jadilah Orang Aktif

KOMPAS.com — Mengembangkan kecerdasan atau inteligensia tidak hanya dengan membaca, menghitung, atau mengingat. Semua aktivitas, termasuk bergaul, olahraga, bermain, mampu meningkatkan kerja otak. Makin aktif dalam banyak hal, makin encer otak kita.

Kita sering mengaitkan sifat pelupa dengan usia tua. Padahal, faktanya tak selalu demikian. Di satu perusahaan kecil saja bisa ada dua teman yang sering lupa. Kalau tidak ketinggalan kunci kendaraan, jam tangan, kacamata, ya biasanya telepon genggam. Yang satu sudah berusia lebih setengah abad, jadi banyak orang memakluminya. Yang seorang lagi? Belum 30 tahun!

Ya memang. Seiring bertambahnya usia, akan menurun pula fungsi tubuh, semisal reaksi refleks menurun, kulit tidak lagi kencang, pigmen rambut menipis sehingga beruban, otot mengempis dan tak kenyal lagi.

Hal yang sama juga terjadi pada otak. Khususnya mulai usia 45 tahun, otak akan kehilangan sekitar 50.000 sel setiap hari dari cerebral cortex, yaitu bagian otak yang paling pintar. Kemampuan hippocampus, wilayah otak tempat memproses memori, juga mulai menurun.

Pada usia 70-an, volume otak mengalami penurunan 10 persen tiap 10 tahun. Di usia 80 tahun, penurunan volume otak mencapai 20 persen.

Seperti kulit jeruk
Bentuk otak manusia tidaklah menarik. Lapisan luar tampak keriput menyerupai kulit jeruk yang sudah layu dan kelihatan bagai jalanan kecil yang berputar-putar. Itulah labirin saraf yang ruwet dengan pembuluh darah dan miliaran sel supermini yang disebut neuron.

Neuron atau sel-sel otak ini mirip gurita dengan nukleus dan sejumlah besar tentakel yang menyebar ke segala arah. Setiap tentakel memiliki ribuan tonjolan mirip bantalan pengisap, yang juga menuju segala arah.

Neuron bekerja sedemikian rupa dengan fungsi yang berbeda-beda. Ada tiga bagian khusus neuron yang mengatur cara kerjanya. Pertama, tindakan yang berhubungan dengan dunia luar seperti melihat pemandangan, mendengarkan musik, merasakan panasnya sinar matahari, menyentuh buku, atau mengecap makanan.

Kedua, hal-hal yang berkaitan dengan otot, gerakan, dan sebagainya. Ketiga, yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, mengingat, membayangkan, dan berimajinasi.

Seorang pakar neuron dan Direktur The Royal Institution, London, Prof Susan Greenfild menyebutkan bahwa satu neuron dapat mengirimkan transmisi kimia 500 kali dalam satu detik. Sementara tiap transmisi memiliki fungsi yang berbeda.
 
Yang terpenting adalah perlu adanya informasi auto-dialing yang teratur atau tetap untuk membentuk sistem saraf. Jaringan komunikasi sistem saraf inilah yang menandai kemampuan intelektualitas seseorang. Semakin banyak tonjolan tentakel dan semakin rapat, makin cepat pula terjadinya transmisi pesan antarsel otak.
 
Bila tidak ada masalah atau hambatan dalam pembentukan jaringan saraf (misalnya akibat obat bius, infeksi virus, dan malanutrisi), kecuali karena usia tentu saja, kita perlu sadar bahwa proses penyusutan volume otak bukanlah sesuatu hal yang patut dikhawatirkan.
 
Tak seperti komputer
Sama seperti organ lain, misalnya otot, bila tidak dilatih penggunaannya, kemampuan otak akan menurun drastis. Sebaliknya, otak yang sering digunakan akan lebih kuat. Tidak seperti komputer yang memiliki keterbatasan, otak justru kian tajam bila diasah dan ditambah data terus-menerus.

Seperti bank data, lapisan atas otak (neokorteks), tempat bersemayamnya inteligensia, terbuat dari 15 juta sel otak yang saling berinteraksi dalam aliran listrik yang bergerak cepat. Setiap informasi yang disimpan di lapisan atas otak segera akan dilapisi oleh cairan otak yang disebut myelin. Myelin berperan penting dalam mengingat kembali data tersebut.

Sama seperti jaringan saraf, makin sering proses mengingat dan berpikir diulang, makin tebal lapisan myelin yang terbentuk. Akibatnya, makin tinggi pula kemampuan untuk mengingat. Bila tidak diulang atau digunakan, lapisan myelin bisa hilang.

Otak kiri dan kanan
Otak memiliki dua belahan, kiri dan kanan. Kedua bagian ini secara biologis memiliki struktur identik dan bekerja harmonis. Namun, fungsinya sangat berbeda dan mengatur bagian tubuh yang berlainan pula.

Otak kiri mengendalikan tubuh bagian kanan dan otak kanan mengendalikan tubuh bagian kiri. Luka pada otak kiri bisa menyebabkan kelumpuhan pada tubuh bagian kanan, dan sebaliknya.

Otak kiri mengurus soal angka, logika, organisasi, dan hal lain yang memerlukan pemikiran rasional, alasan-alasan dengan pertimbangan deduktif dan analitis. Bagian ini digunakan untuk berpikir tentang hal yang sifatnya matematis dan ilmiah.

Sementara otak kanan mengurus wilayah pemikiran abstrak yang penuh imajinasi, misalnya warna, ritme, musik, dan proses pemikiran lain yang butuh kreativitas, orisinalitas, daya cipta, dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan lebih santai, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis.

Semula kecerdasan hanya dikaitkan dengan penguasaan dalam bidang akademik, yang terbatas pada kemampuan membaca, menulis, dan aritmatika. Padahal, ketiga kemampuan ini adalah kerja otak kiri saja.

Sementara kemampuan melukis, musik, olahraga, dan lainnya tidak dianggap sebagai kecerdasan. Tak heran kalau banyak ahli otak menyatakan, sebagian besar orang tidak mengoptimalkan kemampuan otak mereka.

Sinergi di antara kedua belahan otak ini akan menghasilkan otak sejenius otak orang-orang macam Albert Einstein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alfa Edison, Beethoven, dan lain-lain.

Pantas saja kalau penulis buku The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach (Basic Books, 1991) dan Multiple Intelligences: The Theory in Practice (Basic Books, 1993), Prof Howard Gardner dari Harvard University, menyebutkan bahwa inteligensia manusia itu meliputi inteligensia linguistik, logis matematis, visual spatial, kinestetik, musikal, naturalis, interpersonal, dan intrapersonal.

Kedelapan intelegensi ini bisa dan perlu dilatih sehingga otak kita bisa bekerja optimal. Sudah diberi yang bagus harus dimanfaatkan, bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...