Langsung ke konten utama

Kenapa Beda Bau Badan? Wanita Bau Bawang, Pria Bau Keju

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Sabun, parfum dan lotion memang bisa membuat bau badan seseorang menjadi wangi, tapi secara alami laki-laki dan perempuan memiliki bau badan yang berbeda. Apa penyebabnya?

Perbedaan bau badan alami antara laki-laki dan perempuan memang tak lepas dari pengaruh gen yang dimilikinya. Berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti Swiss, ditemukan pada sampel yang diambil dari ketiak perempuan terdapat senyawa yang mengandung sulfur lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.

Diketahui jika pada perempuan senyawa tersebut ada 5 miligram, maka pada laki-laki hanya 0,5 mg saja. Seperti dikutip dari Howstuffworks, Jumat (22/10/2010) perbedaan kandungan senyawa sulfur tersebut akan membuat bau badan seseorang semakin kuat.

Studi ini juga menemukan bahwa bau badan perempuan lebih mirip dengan bau bawang atau jeruk, sedangkan bau badan laki-laki lebih mirip dengan bau keju.

Selain kandungan sulfur dalam keringat, studi lain juga menunjukkan bahwa seorang perempuan akan tertarik dengan laki-laki yang memiliki genetik berbeda dengannya melalui bau badan alami laki-laki tersebut.

Partisipan diminta untuk tidak menggunakan sabun, parfum atau wewangian lainnya selama beberapa hari. Lalu peneliti akan menganalisa sampel keringat yang berasal dari baju katun peserta, dan meminta peserta untuk mencium bau badan lawan jenisnya.

Diketahui sekitar 100 gen yang dikenal sebagai major histocompatibility complex (MHC) yang bertanggung jawab mengontrol sistem kekebalan tubuh akan membantu mengenali bau dirinya sendiri dan bau orang asing. Kondisi ini juga berperan ketika seseorang memilih pasangan.

Dalam studi ini baik laki-laki atau perempuan yang berpartisipasi akan memilih bau badan lawan jenisnya yang memiliki gen MHC paling berbeda dengan dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan seseorang sebenarnya mampu mengenali bau kerabatnya sendiri, sehingga bisa menghindari perkawinan sedarah yang dapat memicu gangguan kesehatan.

Jadi selain konsentrasi senyawa sulfur yang berbeda, perbedaan bau badan ini juga akan membantu keduanya untuk melakukan seleksi dalam memilih pasangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...