Langsung ke konten utama

Garam Bikin Keringat Berlebih?

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Anda punya keringat berlebih, tapi tidak tahu penyebabnya? Jangan-jangan itu karena tubuh terlalu banyak mengandung garam. Karena terlalu banyak garam bisa membuat tubuh memiliki keringat berlebih. Kenapa bisa begitu?

Garam atau natrium klorida berfungsi membantu kontrak otot, membantu perjalanan impuls saraf dan memainkan bagian penting dalam menjaga cairan tubuh.

Tapi jika garam dikonsumsi secara berlebih justru akan menimbulkan bahaya tersendiri bagi kesehatan orang tersebut. Seseorang yang terlalu banyak mengonsumsi garam akan membuat tubuh menjadi kering atau kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan masalah jantung, stroke serta gangguan tekanan darah.

Ini karena garam bersifat mengambil air dalam tubuh dan dikeluarkannya dalam bentuk urine dan keringat. Semakin banyak konsumsi garam orang akan semakin banyak mengeluarkan keringat dan pipis.

Dikutip dari Howstuffworks, Sabtu (9/10/2010) kebanyakan garam di dalam tubuh akhirnya dikeluarkan tubuh melalui urine serta kulit dalam bentuk keringat.

Ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak garam, maka akan dikeluarkan melalui keringat bersama dengan sel kulit, air dan lemak hingga mencapai folikel rambut di permukaan kulit.

Jumlah garam yang dikeluarkan lewat keringat ini bisa bervariasi, beberapa orang ada yang berkeringat lebih banyak dibandingkan orang lain. Kondisi tersebut disebabkan jumlah keringat yang keluar dipengaruhi oleh suhu di luar dan juga genetik dari orang tersebut.

Kandungan utama dari keringat adalah natrium klorida atau dikenal dengan nama garam dapur, karena itu jika seseorang terlalu banyak mengonsumsi garam maka keringat yang akan dikeluarkan oleh tubuh juga bertambah.

Para pakar kesehatan telah sepakat untuk memberikan rekomendasi penggunaan garam per hari berdasarkan usia seseorang, yaitu 7-12 bulan sebanyak 1 gram, 1-3 tahun sebanyak 2 gram, usia 4-6 tahun sebanyak 3 gram, usia 7-10 tahun sebanyak 5 gram, usia 11-14 tahun sebanyak 6 gram dan orang dewasa sebanyak 6 gram.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...