Langsung ke konten utama

4 Mitos Keliru Seputar Nutrisi Selama Kehamilan

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Kehamilan bukan masa yang mudah dalam kehidupan seorang wanita dan banyak dikaitkan dengan perubahan nutrisi, aktivitas fisik, ukuran baju, minat, kesehatan dan sebagainya. Ada cukup banyak mitos tentang kehamilan, terutama nutrisi selama hamil. Apa saja?

Dilansir dari GeniusBeauty, sabtu (2/10/2010), berikut 4 mitos keliru tentang nutrisi selama kehamilan:

1. Mitos, wanita hamil perlu makan untuk 2 orang


Biasanya, seorang wanita hamil membutuhkan tambahan 300 kalori per hari. Hal ini bukan berarti wanita hamil harus makan dengan porsi untuk dua orang. Asupan makanan yang berlebihan akan menyebabkan ibu dan juga bayi kelebihan berat badan. Selain itu, si ibu bisa mengalami diabetes atau toksikosis (keracunan).

2. Mitos, tidak boleh minum kopi selama hamil


Penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi kopi yang berlebihan dapat menyebabkan keguguran atau bayi mungkin lahir kurang berat. Namun sebenarnya minum kopi masih diperbolehkan untuk wanita hamil, asal dengan porsi dan waktu kehamilan tertentu.

Wanita hamil masih diperbolehkan minum kopi, tetapi tidak lebih dari 0,8 cangkir per hari. Cobalah menyeimbangkan konsumsi sepanjang hari. Jangan lupa, kafein tidak hanya terdapat pada kopi, tetapi juga teh dan soda.

3. Mitos, hemoglobin (sel darah merah) ada dalam jumlah standar pada saat kehamilan

Ada penurunan fisiologis di tingkat hemoglobin selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena volume darah meningkat dan kebutuhan bayi berkembang. Oleh karena itu, ibu harus menyediakan jumlah zat besi yang cukup ke tubuhnya.

Untuk melakukan hal ini bisa dengan mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi atau mengambil pil khusus. Kekurangan zat besi bisa meningkatkan risiko keguguran dan kelahiran prematur, juga bayi lahir kurang berat dan kurang gizi.

4. Mitos, zat besi banyak di sayuran hijau


Zat besi sebenarnya banyak ditemukan dalam hati, daging sapi, kalkun, ayam dan ikan. Sereal juga kaya zat besi. Sayuran hijau memang mengandung zat besi, namun tidak sepenuhnya bisa diserap dan dicerna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...