Langsung ke konten utama

Bisakah Bedak Menghentikan Keringat?

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Berbagai cara sering dilakukan untuk menghentikan keringat di badan yang sering menimbulkan bau. Salah satunya adalah menggunakan bedak bayi atau bedak talc. Bisakah bedak menghentikan keringat berlebih?

Bedak bayi atau talc umumnya mengandung mineral yang sangat lembut dan terbuat dari magnesium silikat. Zat ini bisa menyebabkan jaringan tubuh mengerut dan menciptakan permukaan yang kering. Selain itu bedak juga bersifat sangat menyerap, mengurangi gesekan dan bisa berfungsi untuk melindungi kulit.

Bedak bayi yang digunakan pada umumnya juga memberikan sensasi kesegaran dan rasa nyaman di kulit. Terlebih bedak-bedak ini terkadang ditambahkan kandungan bahan-bahan aktif, seperti mentol yang bisa membuat badan terasa 'dingin' dan nyaman.

Bedak bayi bisa menyerap keringat dan menurunkan produksi keringat, khususnya di daerah-daerah yang mana terjadi kontak kulit dengan kult seperti di lipatan paha atau ketiak.

Serta wangi yang ada di dalam bedak bisa menutupi bau badan seseorang. Sehingga bedak bayi bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keringat berlebih dan melindungi dari bau badan.

Namun seperti dilansir Howstuffworks, Jumat (3/9/2010) bukan berarti tidak ada kerugian dari penggunaan bedak bayi ini, seperti misalnya meninggalkan bercak putih di pakaian, membentuk gumpalan dan jika memiliki keringat berlebih umumnya tidak bisa melindungi dalam jangka waktu panjang.

Karena itu seseorang yang ingin menggunakan bedak harus memastikan terlebih dahulu bahwa tubuhnya sudah benar-benar kering.

Para ahli juga menyarankan untuk tidak menggunakan bedak pada daerah-daerah di sekitar alat genital. Karena diduga bubuk dari bedak ini bisa menyebabkan kanker ovarium.

Meski hingga kini hal tersebut masih menjadi kontroversi, karena beberapa ahli menuturkan bahwa bahan yang terdapat di dalam bedak bayi tidak mengandung asbes dan belum ada bukti yang kuat mengenai hal tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...