Langsung ke konten utama

Perempuan Hamil yang Stres Lebih Banyak Makan Karbohidrat

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Perempuan hamil yang merasa lelah, stres dan cemas akan lebih banyak makan karbohidrat. Perempuan-perempuan ini dilaporkan mengonsumsi lebih banyak roti, makanan ringan yang mengandung lemak, protein, besi dan seng.

Sedangkan nutrisi utama berupa asam folat dan vitamin C justru terabaikan. Padahal diketahui bahwa asam folat merupakan salah satu mikronutrisi penting untuk mencegah cacat lahir pada bayi.

Studi yang dilakukan terhadap 134 perempuan, didapatkan perempuan yang selalu merasa lelah selama kehamilannya cenderung mengonsumsi makanan yang mengandung kadar energi dan seng yang tinggi, serta asupan asam folat yang rendah.

Para ahli memperingatkan bahwa suasana hati ibu hamil bisa mempengaruhi pola makannya. Perempuan yang merasa stres atau lelah selama kehamilannya, cenderung memiliki pola makan yang buruk.

Jika hal ini berlangsung terus selama hamil, maka akan berdampak terhadap kesehatan janin yang dikandungnya. Hasil ini dilaporkan oleh peneliti dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

"Temuan kami menunjukkan bahwa perempuan yang merasa lelah, stres dan cemas selama hamil akan lebih banyak makan, terutama karbohidrat," ujar peneliti Laura Caulfield, seorang profesor di Bloomberg's Centre for Human Nutrition, seperti dikutip dari Health24, Senin (30/8/2010).

Lebih lanjut Caulfield menuturkan mengonsumsi makanan dengan porsi lebih banyak memang bisa meningkatkan beberapa kadar mikronutrien penting di dalam tubuh ibu, tapi hal ini juga menyebabkan adanya penurunan mikronutrien lain yang juga penting untuk ibu hamil seperti asam folat dan juga vitamin C.

"Penelitian ini bisa memberikan wawasan baru seputar faktor yang berhubungan dengan asupan makanan selama kehamilan dan memberikan solusi untuk meningkatkan efektivitas program gizi pada ibu hamil. Karenanya faktor psikososial perlu dipertimbangkan ketika ibu hamil mengkonsultasikan mengenai pola makannya," ungkap Caufield.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...