Langsung ke konten utama

Operasi Mengecilkan Perut Bisa Lewat Mulut

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Foto: thinkstock
Los Angeles, Salah satu cara untuk menurunkan berat badan adalah melalui operasi untuk mengecilkan kapasitas lambung. Tapi jangan dibayangkan dokter akan membedah perut, sebab prosedur tersebut kini bisa dilakukan melalui mulut.

Prosedur ini untuk pertama kalinya dilakukan di Amerika Serikat baru-baru ini oleh tim dokter dari University of California. Dalam prosedur yang dinamakan Sleeve Gastrectomy tersebut, tim dokter sukses mengurangi isi lambung sebanyak 20 persen.

Menurut para ahli, ukuran lambung yang lebih kecil dapat membuat perut terasa lebih cepat penuh sehingga nafsu makan bisa ditekan. Setelah menjalani operasi tersebut, biasanya pasien akan dapat mengurangi berat badannya antara 1-2 kg tiap pekannya.

Operasi ini menggunakan teknik bedah laparoskopi, yakni memasukkan kamera dan peralatan kecil lainnya ke dalam perut melalui saluran pencernaan. Sambil memantau lewat layar monitor, dokter dapat memotong-motong bagian lambung yang hendak diperkecil melalui alat yang dikendalikan dari luar.

"Operasi yang dilakukan melalui mulut dpat meminimalkan efek trauma di perut. Tidak adanya pembedahan besar di dinding perut mengurangi nyeri dan risiko mengalami hernia," ungkap Dr Santiago Horgan yang memimpin operasi tersebut.

Dikutip dari Healthday, Kamis (12/8/2010), metode ini telah disetujui penggunaannya di Amerika oleh American Society for Metabolic and Bariatric Surgery (ASMBS). Badan tersebut menilai, Sleeve Gastrectomy aman dilakukan untuk pasien berisiko tinggi.

Namun dalam kaitannya dengan upaya menurunkan badan, ASMBS memberi sedikit catatan. Sebab hingga kini, belum ada cukup bukti bahwa efektivitas pembedahan ini akan bertahan untuk jangka waktu di atas 5 tahun jika tidak disertai operasi lanjutan.(up/ir)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...