Langsung ke konten utama

KESEHATAN

Dua Gadis Hidup Tanpa Lambung

Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: bbc)
Liverpool, Siapa bilang tak punya lambung orang tak bisa makan? Dua gadis membuktikan mereka masih bisa hidup normal setelah lambungnya diangkat karena kanker. Tapi syaratnya makan tak bisa banyak-banyak kadang 1 sendok atau maksimal sepertiga porsi biasa.

Hidup tanpa lambung itu dialami Ravindra dan Meeta Singh. Dua bersaudara ini mengangangkat lambungnya untuk mencegah dan mengalahkan kanker yang telah menewaskan 5 anggota keluarga mereka.

Keluarga Singh, termasuk Ravindra dan Meeta, membawa gen mutan langka E-cadherin, yang hanya terjadi pada 100 keluarga di seluruh dunia. Gen mutan ini membuat mereka lebih rentan terhadap kanker lambung dan kanker payudara.

Ravindra sudah menderita kanker lambung ketika ia menjalani operasi pengangkatan lambung, sedangkan Meeta memutuskan operasi sebagai tindakan pencegahan.

Hampir setahun setelah operasi yang berlangsung di Liverpool, dua bersaudara ini mengaku sedang belajar untuk hidup lagi, tapi mereka merasa segala sesuatu menjadi sangat sulit, terutama yang berhubungan dengan urusan makan.

"Saya jauh lebih baik daripada sebulan sebelumnya, tapi jelas masih ada efek samping yang saya rasakan dengan tidak memiliki lambung," tutur Ravindra yang masih sering merasa lelah dan pusing, seperti dilansir dari BBCNews, Rabu (4/8/2010).

Sudah setahun pasca operasi, tapi Ravindra mengaku masih takut untuk keluar dan makan di luar rumah. Ketika pertama kali keluar dari ruang operasi, Ravindra hanya makan dengan jumlah yang sangat minim, yaitu satu sendok makan. Tapi setelah selang 1 tahun, ia bisa makan sepertiga dari porsi makannya yang biasa.

"Tapi bila saya makan terlalu banyak, beberapa saat setelah saya selesai makan, saya akan merasa tidak nyaman, gangguan pencernaan, jumlah asam meningkat dan kemudian mengalami apa yang disebut sindrom 'dumping', seperti semacam diare parah," jelas Ravindra yang sekarang berusia 30 tahun.

Meeta pun mengalami hal yang sama. "Itu tergantung pada apa makanan yang kita makan, tetapi jika itu adalah makanan yang seharusnya tidak kita makan, seperti roti, saya dapat merasakan sensasi bergerak ke tenggorokan dan kemudian roti ini serasa mengembang," ujar Meeta yang kini berusia 25 tahun dan merupakan adik kandung Ravindra.

"Meskipun ini merupakan operasi yang besar, tapi ini memungkinkan seseorang untuk hidup tanpa lambung," jelas Simon Dexter, seorang konsultan di Leeds Teaching Hospitals dan merupakan dokter bedah yang menangani Meeta.

Dexter menambahkan, usus sebenarnya adalah tabung yang bergerak dari atas ke bawah, sedangkan lambung merupakan pembengkakan di dalam tabung. Bila lambung dikeluarkan, maka sama saja dengan menutup celah yang terjadi di antara keduanya.

Fungsi utama dari lambung adalah penyimpanan. Ini memungkinkan seseorang untuk makan dengan jumlah besar dan kemudian menyimpannya di dalam lambung. Namun, bila orang tidak memiliki lambung, maka ia harus lebih sering makan tapi dengan porsi yang jauh lebih sedikit.

"Lambung membantu penyerapan zat besi dan vitamin B12, sehingga memberi tambahan vitamin bagi tubuh. Tapi bila tak punya lambung, maka orang bisa melengkapi kebutuhan vitamin tersebut dengan suplemen. Sehingga tidak memiliki lambung seharusnya tidak memiliki efek yang mendalam," papar Dexter.

Dan menurut Dexter, pengangkatan lambung adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Ravindra dan Meeta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...