Langsung ke konten utama

KESEHATAN

Tidur Malam 7 Jam Jangan Ditawar-tawar

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: telegraph)
West Virginia, Tidur malam yang kurang makin menjadi kebiasaan banyak orang. Bagi kelompok ini tidur 3-4 jam semalam sudah cukup. Tapi jika ingin mendapaat manfaat sehat dari tidur sebaiknya tidur malam 7 jam jangan ditawar-tawar.

Selama ini masyarakat mengetahui bahwa tidur yang optimal sebanyak 8 jam setiap harinya. Tapi penelitian terbaru justru menunjukkan tidur selama 7 jam setiap malamnya bisa membantu seseorang menjadi lebih sehat.

Para ahli telah menemukan bahwa tidur selama 7 jam akan memeberikan kesehatan yang optimal, sedangkan jumlah jam tidur yang lebih atau kurang dari 7 jam bisa menimbulkan risiko tersendiri bagi seseorang.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 30.000 orang dewasa telah menemukan bahwa penyakit kardiovaskuler seperti stroke dan serangan jantung akan terjadi dua kali lebih tinggi pada orang yang tidur kurang dari lima jam sehari. Sementara itu orang yang tidur sembilan jam atau lebih juga memiliki risiko yang sama.

Hasil penelitian yang telah ditebitkan dalam jurnal ilmiah Sleep menemukan serangan kardiovaskular ini disebabkan karena pola tidur bisa mempengaruhi fungsi metabolisme dan hormon seseorang.

Inilah yang menyebabkan jika seseorang kurang tidur dapat meningkatkan tekanan darah dan mengurangi toleransi terhadap glukosa, kedua kondisi ini yang meningkatkan risiko kerusakan arteri. Sedangkan bagi orang yang terlalu banyak tidur ada kemungkinan mengalami gangguan pernapasan, sehingga meningkatkan risiko tersebut.

"Hasil temuan ini menunjukkan bahwa durasi tidur yang abnormal bisa berdampak merugikan kesehatan jantung seseorang," ujar Anoop Shankar, peneliti utama dari West Virginia University School of Medicine, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (2/8/2010).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...