Langsung ke konten utama

Awas, Obat Jerawat Bisa Bikin Usus Meradang

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Foto: thinkstock
London, Ketika obat lain sudah tidak mempan lagi, isotretinoin sering menjadi senjata pamungkas untuk mengatasi jerawat batu. Namun pada beberapa remaja, obat ini dilaporkan dapat memicu efek samping berupa radang usus.

Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) yang muncul selama mengkonsumsi obat jerawat sebenarnya sangat jarang terjadi. Namun beberapa remaja di Amerika dilaporkan mengalami hal itu setelah mendapat pengobatan dengan tablet isotretinoin untuk mengatasi jerawat batu.

Jenis radang usus yang dialami pada umumnya adalah Crohn's Disease, penyebab berbagai masalah pencernaan seperti nyeri di sekitar perut, diare yang sangat berat hingga kurang gizi. Crohn's Disease bisa diatasi dengan obat-obat antiradang, namun untuk kondisi yang sudah parah usus harus dibedah.

Dalam sebuah publikasi di American Journal of Gastroenterology, sejumlah peneliti menduga efek samping ini juga berkaitan dengan penggunaan antibiotik sebelumnya. Sebab pada jerawat batu, umumnya pasien telah mendapat antibiotik selama berbulan-bulan sebelum diberi isotretinoin.

Dugaan tersebut ternyata tidak meleset. Dalam pengamatan terhadap 94.000 remaja berjerawat, risiko radang usus setelah mendapatkan antibiotik turunan tetrasiklin meningkat 0,26 persen, doxycycline 0,21 persen, minocycline 0,17 persen sementara yang belum pernah mendapat antibiotik hanya 0,14 persen.

Dr David Margolis, seorang dokter kulit yang memimpin penelitian tersebut mendesak adanya penelitian lebih lanjut terkait temuan ini. Bukan tidak mungkin radang usus tersebut berhubungan dengan jerawat itu sendiri, bukan sekedar efek samping dari pengobatannya.

"Efek samping semacam ini sangat langka, namun dokter harus tetap berhati-hati dan memperhatikan kemungkinan ini jika ingin meresepkan isotretinoin pada penderita jerawat batu," ungkap Dr David seperti dikutip dari Reuters, Minggu (22/8/2010).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyak Tidur Saat Puasa Justru Bikin Lemas

Merry Wahyuningsih - detikHealth (Foto: thinkstock) Jakarta, Tidak sedikit orang yang hanya tidur-tiduran untuk menghabiskan waktu di siang hari pada saat puasa. Tapi kebiasaan tersebut justru membuatnya lemas dan tak bertenaga. Mengapa demikian? Pada saat melakukan ibadah puasa, sebaiknya tetap melakukan aktivitas sehari-hari. Alasan menghemat tenaga dengan tidur-tiduran justru akan membuat orang semakin lemas, tidak semangat dan tidak bertenaga. "Pada puasa, tubuh dipersiapkan untuk beraktivitas dengan makan pada saat sahur dan buka puasa, jadi sebaiknya aktivitas tetap dilakukan," tutur Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth , Kamis (26/8/2010). Dr Ari mengatakan bila merasa ngantuk atau lelah, tidur sah-sah saja dilakukan. Tapi yang menjadi masalah adalah tidur dilakukan ketika tubuh merasa dalam kondisi 'on'. Pada saat t...

Sayangi Lutut Sejak Masih Muda Agar Awet Sampai Tua

Houston, Lutut rentan mengalami cedera karena selalu menjadi tumpuan berat badan. Agar terhindar dari risiko arthritis dan kerusakan lain di hari tua, kesehatan lutut harus dijaga sejak dini termasuk dengan cara menurunkan berat badan. Arthritis atau radang sendi menyerang lutut pada hampir 50 persen orang dewasa saat memasuki usia 85 tahun. Risikonya semakin meningkat jika yang bersangkutan mengalami obesitas maupun overweight . "Setiap kali melangkah, lutut menahan beban 3 kali lipat berat badan. Berlari membebani lutut 5 kali lipat berat badan, sementara melompat 7 kali lipat," ungkap Dr William J Brian, seorang dokter bedah tulang dari Methodist Center for Sports Medicine in Houston . Modifikasi gaya hidup mutlak diperlukan bagi kaum muda yang mulai mengalami nyeri pada persendian. Tujuannya untuk menurunkan berat badan, sehingga tekanan yang menyebabkan nyeri di persendian bisa dikurangi. Menurut Dr William, formula untuk menurunkan berat badan a...

Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida

Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan. Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD). ”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2/2010) di Jakarta. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaat...